E-Dukasi Mengenal Provinsi Aceh



Provinsi Aceh dulu dikenal dengan nama Nangroe Aceh Darusalam (disingkat NAD) atau sering disebut Aceh saja, yaitu sebuah provinsi yang terletak di ujung utara pulau Sumatera. Provinsi ini, merupakan provinsi yang letaknya paling barat di Indonesia. Ibu kota provinsi NAD yaitu Banda Aceh. 
Kalau Kamu ingin berkunjung ke Aceh memakai pesawat udara, pesawat yang kau tumpangi akan mendarat di Bandar Udara Sultan Iskandar Muda yang terletak di Kota Banda Aceh, tetapi jikalau kau memakai alat transportasi berupa Kapal laut, kapal bahari yang Kamu tumpangi akan menepi di Pelabuhan Laut Balohan di Sabang. 
Sabang, yang merupakan wilayah paling barat Indonesia ini, berbatasan pribadi dengan negara Malaysia, India dan Thailan. Kamu sering kan, mendengar kata Sabang dari lagu “Dari Sabang hingga Merauke” karya bapak R. Suharjo? Yang dimaksud dengan kata sabang dalam lagu tersebut yaitu wilayah di provinsi Aceh ini. 
Sabang juga populer akan pemandangannya yang indah. Di Sabang, Kamu sanggup menikmati indahnya alam bawah bahari dengan menyelam.  Di bahari sabang, ada ratusan spesies ikan dan kekayaan terumbu karang alami.  Selain itu, Sabang juga mengatakan keindahan pantai, air bahari yang biru dan higienis serta pepohonan yang hijau. Tidak heran jikalau Sabang menjadi salah satu tujuan wisata andalan provinsi NAD.
Selain Sabang, tempat lain yang populer di Aceh yaitu Masjid  Baiturrahman. Masjid peninggalan Kesultanan Aceh ini telah berumur ratusan tahun. Masjid renta yang kokoh ini bahkan tetap bertahan dikala Aceh dilanda gelombang tsunami pada tahun 2004. 
Aceh yang merupakan daratan yang paling bersahabat dengan episentrum gempa bumi di samudera Hindia yang terjadi pada tahun 2004, sehingga daerah ini mengalami dampak terdasyat gelombang tsunami yang ditimbulkan oleh gempa tersebut. Dampaknya, 170.000 orang tewas atau hilang akhir tragedi tersebut. Ribuan orang jugga kehilangan tempat tinggal alasannya banyak bangunan luluh lantak diterjang gelombang tsunami yang konon tingginya mencapai 30 meter.
Meskipun sempat porak poranda akhir gelombang tsunami, kini sehabis 14 tahun berlalu, banyak objek wisata lain yang bisa Kamu kunjungi di Aceh, beberapa diantaranya yaitu Taman Laut Pulau Rubiah, Danau Anuek, Laout, Bekas Kerajaan Samudera Pasai, Pemandian Air Panas Simpang Balek,dll.
Kamu juga sanggup berkunjung, ke Taman Nasional Gunung Leuser. Taman Nasional Gunung Leuser merupakan tempat konservasi yang diresmikan semenjak tahun 1980. Taman Nasional ini sangat luas, mencakup sebagian wilayah Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara. Nama Taman Nasional Gunung Leuser, diambil dari puncak tertinggi, Gunung Leuser (3.381 m). Taman nasional ini merupakan  salah satu tempat cagar alam yang terbesar dan paling bermacam-macam di Indonesia. Luas Taman Nasional Gunung Leuser mencapai 7.927 kilometer persegi. Terdiri atas ekosistem hutan bakau, pantai dan hutan rawa, hutan hujan dataran rendah, hutan lumut, dan hingga hutan subalpine.
Selain objek wisata yang menarik, Kamu juga bisa mempelajari budaya masyarakat setempat. Di Aceh terdapat beberapa suku, yaitu suku Aceh, Gayo, Alas, Kluet, Tamiang, Singkil, Anak Jame, Simeleuw, dan Pulau. Tarian dan lagu daerah dari Aceh juga beragam. Tarian tradisional yang populer dari Aceh. yaitu Tari Seudati, Tari Saman, dan tari Meuseukat, sedangkan lagu wilayahnya antara lain Bungong Jeumpa, Lembah Alas, dan Piso Surit.
Sebagai pengiring lagu dan tari, Aceh juga mempunyai alat musik tradisional berupa Serune Kalee. Serune Kalee merupakan alat musik tiup yang mempunyai beberapa lubang sebagi pengatur nada. Alat musik tradisional ini terbuat dari kayu Unik bukan?
Tidak hanya alat musik yang unik. Aceh juga mempunyai senjata dan rumah tradisional yang khas. Senjata tradisional Aceh berupa rencong. Rencong biasa dipakai sebagai komplemen pakaian budbahasa aceh. Pakaian budbahasa Aceh disebut pakaian budbahasa Pidie. Sedangkan rumah budbahasa Aceh disebut rumah Krong Bade. Krong Bade merupakan rumah budbahasa yang berbentuk rumah panggung, sehingga sanggup melindungi dari hewan buas. 
Jika Kamu suka wisata kuliner, kau juga bisa mencoba kuliner khas Aceh, mirip Timpan, Masak Udang Cumi, Gulai Aceh, Daging Masak Pedas, Korma Kambing, Sie Reubeouh Cuka, Gulai Kepala Ikan, Kanji Rumbi,dll.
Selain kaya akan budaya, Aceh mempunyai sumber daya alam yang cukup melimpah. Kekayaan alam yang dimiliki aceh, diantaranya yaitu minyak bumi dan gas alam. Bahkan, diperkirakan cadangan gas alam Aceh yaitu yang terbesar di dunia. Selain minyak dan gas bumi di Aceh juga terdapat tambang emas dan perak.

Keterangan:
1. Pakaian Adat Aceh
2. Pertunjukan tari Saman
3. Rumah budbahasa Krong Bade
4. Rencong
5. Serune kalee
6. Masjid Baitturohman

Ngomong-ngomong soal emas, tahukah kalian dari mana emas yang dipakai untuk melapisi puncak monumen nasional monas) di  Jakarta? Emas tersebut merupakan dukungan seorang tokoh Aceh berjulukan Teuku Markam. Teuku Markam yang menyumbang 28 dari 38 kilogram emas yang dipakai untuk melapisi pucuk monumen nasional ersebut berasal dari kampung Seuneudon dan Alue Capli, Panton Labu Aceh Utara.
Beliau menyumbangkan emas yang diperoleh dari tambang emas miliknya untuk melapisi puncak monas. Sikap dia yang bahagia memberi dan berani berkorban demi kepentingan bangsa dan negara ini patut kita teladani.  Selain Teuku Markam, perilaku masyarakat aceh lain juga patut kita teladani. Berkat dukungan emas dan harta benda masyarakat Aceh, Indonesia sanggup mempunyai dua pesawat terbang pertama. Kedua pesawat tersebut diberi nama Seulawah RI-001 dan dakota RI-002.. Selain itu, sebuah pesawat jenis Avro Anson, RI-003 yang di beli di Thailand dengan pembayaran Emas Murni milik pribadi keluarga Teuku Hamid Azwar dan Bapak Teuku M. Daud. Pesawat terbang dukungan warga negara Indonesia dari Bumi Serambi Mekah tersebut sangat mempunyai kegunaan dalam usaha mempertahankan kemerdekaan.
Serambi Mekah merupakan julukan untuk Aceh. Aceh disebut serambi mekah alasannya Aceh dianggap sebagai tempat dimulainya penyebaran Islam di Indonesia. Bahkan, Kesultanan Aceh juga berperan penting dalam penyebaran Islam di wilayah Asia Tenggara.  Selain itu pada zaman dahulu, Aceh merupakan tempat persinggahan para muslim dari aneka macam wilayah sebelum berkunjung ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Sehingga Aceh diibaratkan mirip serambi yang harus disinggahi sebelum masuk ke rumah yang dituju.
Hingga dikala ini, Aceh dikenal sebagai wilayah yang sangat menjunjung tinggi nilai agama islam. Persentase penduduk Muslim di Aceh juga yang tertinggi di Indonesia, dan mereka hidup sesuai syariah Islam. Sedikit berbeda dengan provinsi lain di Indonesia,  Aceh mempunyai hak otonomi yang diatur tersendiri menurut pertimbangan sejarah.
Sejarah Aceh bermula dari zaman kesultanan Aceh. Kesultanan Aceh merupakan kelanjutan dari Kesultanan Samudera Pasai yang runtuh pada era ke- 14. 
Aceh populer sebagai kerajaan yang unggul dalam pendidikan militer, serta komitmennya dalam menentang penjajahan oleh bangsa Eropa. Kesultanan Aceh juga mempunyai sistem pemerintahan yang teratur dan sistematik. Kesultanan Aceh juga mempunyai pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan, serta mempunyai kemampuannya dalam menjalin hubungan diplomatik dengan negara lain. Kesultanan Aceh telah menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan di dunia Barat pada era ke-16, termasuk Inggris, Ottoman, dan Belanda.
Kesultanan Aceh, pada zaman kekuasaan Sultan Iskandar Muda, merupakan negeri yang amat kaya dan makmur. Seorang penjelajah asal Perancis yang pernah berkunjung ke Aceh pada masa keemasan Aceh, kekuasaan Aceh pada dikala itu, mencapai pesisir barat Minangkabau hingga daerah Perak. 
Selain kuat, semenjak dahulu Kesultanan Aceh selalu anti penjajahan. Kegigihan bangsa Aceh dalam menentang penjajahan, sanggup dilihat dari banyaknya satria yang berasal dari Aceh dan beberapa bukti lainnnya. Beberapa satria nasional yang berasal dari Aceh antara lain Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, Teuku Cik Di Tiro, Teuku Nyak Arief, Sultan Iskandar Muda, dll.
Salah satu bukti aktual usaha pejuang-pejuang Aceh yaitu kuburan Kerkoff Peucut. Kuburan Kerkoff tercatat sebagai kuburan Belanda terluas di luar Negeri Belanda. Banyak serdadu Belanda yang terbunuh selama perang Aceh dimakamkan di tempat tersebut, termasuk empat jenderal Belanda yang tewas dalam perang Aceh. 
Sebagai sarana dalam melawan penjajahan, Kesultanan Aceh juga telah bisa menciptakan senjata berupa meriam. Meriam-meriam peninggalan Kesultanan Aceh masih tersisa hingga sekarang. Namun sayang, meriam tersebut, tersimpan di Museum Bronbeek di negeri Belanda. Hasil kerja keras teknisi-teknisi kesultanan Aceh (berbekal ilmu yang mereka pelajari dari kerajaan Turki Ustmani) tersebut, berhasil direbut Belanda dalam usaha menaklukkan wilayah Aceh.
Peninggalan sejarah lain yang menjadi saksi perlawanan rakyat Aceh terhadap penjajahan yaitu Benteng Indrapatra. Benteng yang sudah mulai dibangun semenjak masa kekuasaan Kerajaan Lamuri (kerajaan Hindu tertua di Aceh), terletak di Desa Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Dahulu dulu, benteng ini berperanan penting dalam melindungi rakyat Aceh dari serangan Portugis. 
Tidak hanya berperan penting dalam merebut kemerdekaan, sehabis merdeka rakyat Aceh juga banyak berperan dalam mempertahankan kemerdekaan. Sebagai daerah yang tidak pernah berhasil dikuasai Belanda hingga proklamasi kemerdekaan Indonesia. Aceh menjadi “Daerah Modal” yang sangat berpengaruh dalam mempertahankan kemerdekaan. Beberapa kali Belanda melancarkan serangan udara, tetapi sanggup di balas meriam-meriam anti pesawat terbang oleh rakyat Indonesia di Aceh. 



Postingan populer dari blog ini

E-Dukasi Menpan-Rb Akan Mengurangi Jumlah Pns

E-Dukasi Agenda Berguru Bersama Maestro, Mencetak Seniman Berkualitas

E-Dukasi Motivasi Seharga Rp 3.333,33